Laman

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 26 September 2014

SEJARAH

SEJARAH PAGAR NUSA

 Sebagai olah raga bela diri asli Indonesia, pencak silat tentunya sangat populer di kalangan masyarakat. Di Masyarakat pedesaan terutama, banyak dijumpai perguruan-perguruan silat yang memiliki karakter masing-masing.

Tak cuma menjamur di masyarakat, olah raga pencak silat juga dimiliki oleh organisasi massa, termasuk ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki organisasi pencak silat bernama Pagar Nusa. Anggotanya kebanyakan adalah para santri yang sedang nyantri di pesantren, dan para siswa madrasah yang berada di lingkungan pesantren, atau pun masyarakat luas yang tinggal di sekitar pesantren.

Nama lengkap organisasi yang menaungi Pagar Nusa adalah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa atau disingkat IPSNU Pagar Nusa. Sedangkan Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa.

IPSNU Pagar Nusa merupakan satu-satunya wadah yang sah bagi organisasi pancak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama berdasarkan keputusan Muktamar NU. Organisasi ini berstatus sebagai lembaga otonom NU yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga-lembaga NU lainnya.

Didirikan pada tanggal 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim, Pagar Nusa pertama kali diketuai oleh KH Maksum Jauhari, atau lebih dikenal dengan Gus Maksum. Dipilihnya Gus Maksum sebagai Ketua Umum Pagar Nusa ini atas kesepakatan para kiai.

Gus Maksum memang terkenal di dunia persilatan. Sebagai seorang kiai di Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Maksum berperilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak.

Semasa hidup, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum.

Sebagai jenderal utama 'pagar NU dan pagar bangsa' (Pagar Nusa) Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif.

Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

Saat ini, cucu pendiri Nahdatul Ulama (NU) KH Hasyim Asary, Aizzudin Abdurrahman, terpilih sebagai Ketua Umum Pagar Nusa periode 2012-2017 dalam kongres di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Rabu (11/7/2012).

Pagar Nusa mengalami masa kejayaan pada tahun 90-an. Saat ramai-ramai terjadi isu santet di Jawa Timur, dan akhirnya menjadi isu nasional jelang reformasi 98 silam, banyak orang yang belajar silat dan ilmu-ilmu kekebalan di Pagar Nusa. Orang-orang banyak yang ingin menjaga diri dengan ilmu kanuragan, untuk jaga-jaga menghadapi situasi keamanan nasional yang saat itu tidak stabil lantaran ramainya isu santet.

Setelah ditinggal mati oleh Gus Maksum, Pagar Nusa tidak semoncer seperti pada masa-masa awal terbentuknya. Terutama saat kondisi keamanan nasional semakin membaik. Namun demikian bukan berarti Pagar Nusa tidak berkembang. Sebagai organisasi di bawah NU, Pagar Nusa masih menjalankan agenda-agenda organisasi, dan menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dalam kegiatan-kegiatan yang membutuhkan pengamanan.

Jumat, 16 September 2011


























































Kamis, 15 September 2011

Asal Mula Pagar Nusa

PAGAR NUSA MADIUN
Pagar Nusa lahir sebagai bentuk keprihatinan para Kyai, ulama, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat terhadap pergeseran nilai pencak silat di dunia pesantren. “Pesantren kuno itu sekaligus padepokan silat,” kata Gus Maksum.

Gus Maksum Jauhari atau Mbah Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan, terutama “PAGAR NUSA” . Pagar Nusa merupakan Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama hasil musyawarah para Kyai, ulama, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat NU pada tanggal 12 Muharram 1406 H di PP.Tebuireng Jombang dan pada musyawarah kedua tanggal 3 Januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo ditetapkan sebagai wadah para pesilat NU sekaligus mengukuhkan Mbah Ma’sum sebagai ketuanya.


Mbah Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan Sebagai seorang kiai, Mbah Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “nyleneh” di pesantren, Mbah Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Mbah Maksum masih memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.


Dikalangan masyarakat umum, Mbah Maksum dikenal sebagai orang yang pemberani dan rendah hati. Kerendahan hati Mbah Maksum dirasakan sendiri oleh penulis, saat penulis, adik penulis serta beberapa pesilat Pagar Nusa Unisma datang untuk sillaturahmi sekaligus hendak turun di ajang pencak Dor PP Lirboyo. Mbah Maksum dengan rendah hati mempersilakan rombongan kami untuk masuk, makan bersama dan memberikan nasehat-nasehat yang tidak terkesan “menggurui’. Kesan kerendahan hati Mbah Maksum ini semakin dalam di hati kami, manakala Mbah Maksum mengetahui bahwa adik penulis adalah warga tingkat I PSHT Madiun. Tidak ada perbedaan sikap Mbah Maksum ke adik penulis. Bahkan Mbah Maksum menyampaikan 4 hal kepada kami semua, yakni pentingnya persatuan diantara sesama pesilat Nusantara. Kedua, ajang pencak Dor adalah ajang kejujuran, artinya di atas panggung tidak melihat aliran namun yang dilihat adalah kemampuan dari individu pesilat itu sendiri. Ketiga, ajang pencak Dor dan budaya pencak Silat harus senantiasa dilestarikan sebagai wadah pembinaan mental bangsa. Selanjutnya pesan terakhir dari Mbah Maksum adalah para pesilat harus memiliki jiwa ksatria dan senantiasa berbakti kepada agama, nusa dan bangsa.

Keberanian dan kharisma Mbah Maksum tersebut seharusnya membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan dan pencak silat di pesantren maupun masyarakat, baik melalui wadah Pagar Nusa atau pun yang lain. Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Mbah Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI, Mbah Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Mbah Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

Matur Nuwun Mbah Maksum, semoga semangatnya dapat ditiru oleh seluruh pesilat Nahdlatul Ulama yang ada dimana saja dan di “wadah ” apa pun. (dikutip oleh Rukma dari berbagai sumber)